Langsung ke konten utama

Kekuatan Jeda

Dear Semesta...........


Terima kasih untuk semua berkat yang aku terima, terima kasih atas semua masalah yang harus aku hadapi 𝨾. Aku tahu bahwa aku telah berjuang keras untuk setahun belakangan. Banyak hal yang aku alami, banyak orang yang datang untuk sekedar pergi, dan juga datang untuk menetap lama. Terima kasih untuk semuanya.........



Sekarang, bolehkan aku meminta jeda? Ehmm....maksud ku aku ingin memberi jeda untuk diriku sendiri.Belakangan ini aku sama sekali ga memberi ruang pada semesta untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk meringankan beban ku. Aku terlalu focus untuk segala pencapaian yang ingin aku raih, terlalu memaksakan diri mengenakan topeng berlama-lama, dan sekarang aku mulai lelah.



Maka ku buatlah jeda ini, bukan karena aku malas ya . Tapi aku membuat jeda untuk memulihkan diri, dan memberi ruang pada semesta ini untuk membantuku. Seperti saat menggergaji ratusan balok kayu, bila gergaji kita gunakan terus menerus tanpa jeda, apakah balok kayu yang terpotong akan lebih cepat? Belum tentu....kalau digunakan tanpa jeda, mata gergaji tentu akan tumpul dan bisa menghampat pekerjaan. Untuk itulah jeda diperluka, untuk mengasah mata gergaji agar tajam kembali. Sama halnya seperti manusia, bila kita terlalu memforsir diri, tentu ga bagus kan? 



Pernah ga sih kalian kehilangan sesuatu dan bikin panik? Dicariin dimana-mana ga ketemu sampai kalian cape dan lupain itu. Daaaan...saat ga ga terduga triiiing, tiba-tiba kalian inget aja gitu naruh dimana, atau ketemu di kolong meja saat beresin kamar. Itu bukan suatu kebetulan gaes, saat kita berhenti mencari dan bahkan melupakan benda yang hilang itu justru di sanalah semesta berperan. Semestalah yang membantu kita menemukan benda itu lewat acara bersih-bersih ato karena ada event tertentu kita bisa inget dimana dan kapan kita naruhnya. 



Sekali-sekali buatlah jeda. Ga harus jeda yang gimana-gimana. Bahkan sembahyang dan berdoa pun termasuk jeda juga, asalkan hati dan pikiran kita benar-benar teralihkan. Pengalihannya yang ke Tuhan, ga usah diinget-inget lagi. Biarkan semesta yang bantuin. Sebenernya sih ada penjelasan tentang jeda yang lebih mendetail, tp sayang postingannya di youtube dalam bentuk rekaman di hapus. Sedih deh, padahal buat ku itu uda kaya pencerahan, pedoman bangkit dari masa-masa kelam.



Syudahlah, cukep dulu jedanya untuk hari ini, aku mau lanjut update bookingan CNY dulu.



1 Jan 2017



-basmatika-




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yours, Mine and the Truth

" Honestly is more than not lying. It is truth telling, truth speaking, truth living, and truth loving" -  James E. Faust Okay, ntah kenapa hari ini aku pengen banget nulis tentang kejujuran, mungkin gara-gara liat novelnya Sherlock Holmes yang ngejogrok nganggur nunggu ditamatin atau gara-gara iseng googling tentang quote yang muncul mostly tentang honestly , entahlah... Seberapa pentingnya kejujuran buat ku? Penting banget sih, apa buat kalian penting juga? Bisa iya bisa juga tidak. Lewat tulisan ini bukannya aku berniat menghakimi orang-orang yang tidak jujur, siapalah aku ini, hanya butiran debu, makhluk yang juga ga luput dari dosa. Jujur itu berat, kadang pahit dan mengundang badai air mata. Ya....karena kejujuran aku pernah patah hati. Aku lebih memilih pacar ku (red: dulu) jujur kalo emang dia pengen udahan aja ketimbang dia bohong dan kami tetep sama-sama dan saling nyakitin satu sama lain. Awalnya tetep denial sih, nanya kenapa? Kenapa? Kok bisa? Tapi lama-l...

D.U.A.L.I.S.M.E

Cinta, benci Marah, sayang Bahagia, menderita Baik, buruk Berhasil, gagal Positif, negatif Dualisme..... Hidup memang seperti itu, aku penah gagal sehingga tau betapa bahagianya saat berhasil dalam suatu hal. Aku pernah jatuh cinta dan merasa betapa sakitnya patah hati itu. Aku pernah sangat marah namun reda oleh kasih sayang. Hanya saja baik dan buruk itu yang relatif demikian juga positif dan negatif. Aku belajar mengontrol pikiran ku untuk selalu positif, namun ada banyak distraction yang bikin aku kembali negatif dan pesimis. Aku berusaha membuat semesta menerima energi postif dari pikiran-pikiran ku, tapi ternyata tak semudah itu. aku masih  sering mempertanyakan hal-hal buruk yang aku terima, pertanyaan "kenapa harus aku?". Dan aku sadar aku tak pernah bertanya pada semesta saat aku bahagia, Aku mulai belajar menerima, belajar melepaskan diri dari ekspektasi yang mengungkung. Aku belajar menerima orang datang dan pergi dalam hidup ku karena memang h...