Langsung ke konten utama

Postingan

Aku dan Semua Rasa

Malam itu, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel ku, isinya nyuruh nyari pisang batu untuk "loloh", semacam jamu agar bisa punya anak. Heran, aneh, agak kesal, bukan....sangat kesal tepatnya. Apa sih ini? Kenapa pula harus pisang? Kenapa ga buah lain aja gitu? Mangga misalnya, atau manggis yang bisa membawa kabar gembira karena kini kulitnya sudah ada extraknya?! Dan ini bukan yang pertama, tahun lalu juga pernah, beberapa bulan lalu juga pernah.  Belum lagi berbagai ritual yang harus dijalani, ternyata bereproduksi tak hanya melibatkan organ reproduksi pria dan wanita, tapi juga ritual-ritual panjang nan melelahkan. Harus ini harus begitu, rasanya ingin sekali bilang, setelah aku punya anak, maukah mereka ikut berpartisipasi dalam keuangan untuk biaya hidup dan pendidikan anak ku? Atau biaya pas hamil, ngidam dan lahiran deh, beliin diapers, susu dan tetek bengek lainnya? Atau cuma bisanya nyuruh" aja? Cuma nyirnyir aja? Kenapa mereka tidak mengharg...

Yours, Mine and the Truth

" Honestly is more than not lying. It is truth telling, truth speaking, truth living, and truth loving" -  James E. Faust Okay, ntah kenapa hari ini aku pengen banget nulis tentang kejujuran, mungkin gara-gara liat novelnya Sherlock Holmes yang ngejogrok nganggur nunggu ditamatin atau gara-gara iseng googling tentang quote yang muncul mostly tentang honestly , entahlah... Seberapa pentingnya kejujuran buat ku? Penting banget sih, apa buat kalian penting juga? Bisa iya bisa juga tidak. Lewat tulisan ini bukannya aku berniat menghakimi orang-orang yang tidak jujur, siapalah aku ini, hanya butiran debu, makhluk yang juga ga luput dari dosa. Jujur itu berat, kadang pahit dan mengundang badai air mata. Ya....karena kejujuran aku pernah patah hati. Aku lebih memilih pacar ku (red: dulu) jujur kalo emang dia pengen udahan aja ketimbang dia bohong dan kami tetep sama-sama dan saling nyakitin satu sama lain. Awalnya tetep denial sih, nanya kenapa? Kenapa? Kok bisa? Tapi lama-l...

Basa-Basi Super Basi, masih Jamankah?

Aku, Dwi Aprini Perempuan Umur 29 tahun 11 bulan, bulan depan uda 30 tahun Sudah Menikah.... Ya, akhirnya selama hampir 12 tahun luntang-lantung dan hampir aja cuma jadi penjaga jodoh orang aku nikah juga. Hahahahahahahha.... 😂😂 Iya, aku ga boong, aku hampir jagain jodoh orang lhooo, dan berkat Tuhan melalui semestanya, dia jadi jodoh ku, yeyyyyyyyyyy Kemudian, setelah terbebas dari pertanyaan menjengkalkan seputaran kapan nikah, ingat umur (helllowww, kenapa emangnya sama umur?!) dan jangan keasikan nyari duit (ini juga gue nyari buat modal nikah, yang akhirnya aku balik tanya "kamu mau nyumbang berapa nanti di nikahanku? mampus). Kini aku dapet pertanyaan baru yang ga kalah nyebelinnya dari "kapan nikah?". Yayayayaya, pertanyaan itu adalah "uda hamil?", pertanyaan simple yang kalau ga dijawab ga sopan katanya apalagi yang nanya orang yang lebih tua. So dari jawab masih belum sambil mesem-mesem berharap mereka ngerti kalo itu ga sopan sampe ke tahap...

Kesadaran???

Beberapa hari yang lalu seseorang bercerita padaku, hmm... bukan bercerita sih, lebih tepatnya menjelaskan  apa yang dia pikirkan. Sampai hari ini aku memikirkan, mencoba menelaah dan memahaminya. Malam sebelumnya agak sulit bagiku untuk menerima uraiannya, terdengar janggal dan tidak umum. Tapi kini secara perlahan aku mulai mengerti, tidak banyak mungkin hanya persekian saja, tapi masih mending daripada tidak sama sekali bukan? Kami membahas kesadaran. Bukan kesadaran yang kalian pikirkan (kaya aku tau saja yang kalian pikirkan). Kami membahas kesadaran diri, kesadaran untuk hidup saat ini; live in the present dia menyebutnya. Yang dia maksud tidak saja menikmati moment saat ini, detik ini namun juga kita sadar siapa kita, dimana kita, sedang apa dan aware dengan lingkungan di sekitar kita. Spontan pikiranku membahtah saat itu, ah masa iya aku ga sadar? Ini lho aku sepenuhnya sadar, ga mabok ga lagi ngelamun; gitu kira-kira pikiranku (kalian banyangin aja adegan sinetron yan...

D.U.A.L.I.S.M.E

Cinta, benci Marah, sayang Bahagia, menderita Baik, buruk Berhasil, gagal Positif, negatif Dualisme..... Hidup memang seperti itu, aku penah gagal sehingga tau betapa bahagianya saat berhasil dalam suatu hal. Aku pernah jatuh cinta dan merasa betapa sakitnya patah hati itu. Aku pernah sangat marah namun reda oleh kasih sayang. Hanya saja baik dan buruk itu yang relatif demikian juga positif dan negatif. Aku belajar mengontrol pikiran ku untuk selalu positif, namun ada banyak distraction yang bikin aku kembali negatif dan pesimis. Aku berusaha membuat semesta menerima energi postif dari pikiran-pikiran ku, tapi ternyata tak semudah itu. aku masih  sering mempertanyakan hal-hal buruk yang aku terima, pertanyaan "kenapa harus aku?". Dan aku sadar aku tak pernah bertanya pada semesta saat aku bahagia, Aku mulai belajar menerima, belajar melepaskan diri dari ekspektasi yang mengungkung. Aku belajar menerima orang datang dan pergi dalam hidup ku karena memang h...

Optimis atau Pesimis? Beda, aku REALISTIS!!!

Menurut sebagian orang aku orangnya egois. Tak apa, tidak masalah dan aku tidak punya keharusan untuk menjelaskan siapa diriku pada semua orang apalagi orang yang nota bene tidak dekat denganku. Bukankah siapa kita adalah tentang persepsi?  Ada yang bilang bahwa cara orang memperlakukan kita adalah cerminan diri kita sendiri. Aku setuju sih, tapi (tetep ada tapinya yaaa) ga semua sih kaya gitu. Terutama tipe kaya aku yang pendendam ini, sekali ga suka sama orang biar kaya gimana dia baikin aku, ga bakalan bikin aku balik respek lagi sama dia. Jahat ya??? Yaaaa balik lagi jahat ga nya itu relatif tergantung persepsi kalian masing-masing. Beberapa orang menyebut aku tuh orangnya pesimistis, dan aku menyebut diri ku REALISTIS! Ada banyak hal yang membedakannya, misalnya nih ya...aku ditantang beli MacBook tapi cuma punya duit sejuta dan harus dapat dengan harga itu, aku bilang ga bisa, apa itu aku pesimis? NO, aku tau harga MacBook itu belasan hingga puluhan juta, aku realistis bi...

MENIKAH (Antara Hati dan Bhakti)

Aku hidup di jaman hidup serba distandar dan semua serba terprogram. Baik buruk, benar salah semua ada standardnya, dari lahir nama, agama dan bahkah tujuan hidup sudah diarahkan. Kita diprogram untuk mengikuti aturan masyarakat yang apabila kita melanggar kita dianggap sebagai pemberontak, virus atau lebih parah lagi sampah masyarakat. Norma-norma dan hukum-hukum yang berlaku adalah standar yang harus dipatuhi, mau tidak mau, suka tidak suka. Sebagai perempuan Bali, aku merasa banyak sekali tuntutan dan tekanan yang di hadapi. Aku diharuskan mengikuti aturan-aturan yang kadang beberapa diantaranya sudah kuno menurut ku. Bukan berarti sok modern, aku sangat bangga dengan budaya dan kearifan lokal masyarakat Bali, dengan adat dan tradisinya, dengan taksu dan keseniannya, aku bangga sekali dan aku mencintai tanah kelahiranku. Di sisi lain sebagai perempuan setengah modern (karena aku belum sepenuhnya menjadi wanita modern dan aku tidak berniat menjadi wanita modern), ada bebe...