Langsung ke konten utama

Postingan

Aku dimatamu (keluhan terselubung)

 Aku aneh Aku kekanakan Aku “ngrenyed” Aku cengeng Ntah apa lagi aku dimatamu. Sepertinya memang tidak pernah baik. Kalau aku menunjukkan rasa kesalku, atau saat aku bilang aku sedih karena sikapmu, kamu akan bilang aku “ngrenyed” (mungkin mirip dengan lebay kalau di-Indonesiakan), seperti hari ini. Kamu memang tidak bilang langsung, tapi ntah kenapa aku bisa mendengarnya, meski tidak ada suara, tp jelas terdengar saat kamu menatap ku. Saat itu aku berpikir, apa sebaiknya aku usah menunjukkan rasa kesal ku, ga boleh bilang kalau lagi marah, atau lagi sedih. Atau mungkin aku tidak boleh merasa kesal, marah dan sedih?  Reaksi ku tadi mungkin berlebihan menurutmu. Tapi aku tiba-tiba merasa kesal, marah dan berakhir sedih saat tau kamu pergi jalan-jalan jauh tanpa aku. Ya TANPA AKU Aku merasa tersingkirkan, ga dianggap. Ngasi tau bakal pergi aja ngga, sama siapa aja ngga, tau-tau di tag sm ponakan kalo kalian lagi jalan-jalan. Hal yang belum tentu setahun sekali aku alami. Rasa-ra...

Satu di antara Dua

  Memilih tidak pernah mudah, bahkan untuk orang paling pintar sekalipun. Katamu mungkin aku terlalu nyaman dengan diriku, atau aku terlalu terbiasa dengan kita saja, kamu dan aku. Kamu mempertanyakan sesungguhanku, keseriusanku, keinginanku. Ringan sekali kata-kata itu mengalir darimu, tajam menusuk ku. Keraguanmu akan kesungguhan ku, kamu ga tau kan kalau itu menusuk ku pelan-pelan. Bagimu usaha ku tidak sekeras kamu, aku tidak serius. Mungkin takut ku tak tampak, rasa takut ku lihai aku sembunyikan. Kalau untuk masalah yang satu itu, aku selalu memilih diam. Hanya saja , sepertinya diamnya aku terlihat seperti ketidakseriusan. Jujur, aku lelah dengan pertanyaan - pertanyaan, kapan? Kok belum? uda ke dokter? Uda berobat kemana aja? Sabar, bla bla bla bla. Sampai kata-kata yang terkesan memojokkan dan menuduh. Siapa pihak yang terpojok dan tertuduh? Aku, ya AKU, siapa lagi? Terkadang ucapan mereka seperti menyalahkan ku. Bilang aja aku baper? Siapa yang ga baper terus-terusan dice...

Hutang Budi dan Balas-Membalas

Pepatah “Hutang budi dibawa mati” sering terngiang-ngiang di kepalaku. Banyak sekali orang-orang yang berjasa padaku tapi tidak/ belum bisa kubalas jasanya. Jadi merasa bersalah... Aku pernah denger seorang ibu bilang gini “ini oleh-oleh untuk si A, mumpung abis panen, saya kasi beras. Biar nanti anak saya di jagain, dikasi kerjaan juga." Seorang pernah teman bercerita, “Bunga (bukan nama sebenarnya) bisa kerja disana itu karena rekomendasi ku, kalau bukan karena aku ga mungkin dia keterima. Setelah dia naik jabatan, ga sekali pun dia mau nongkrong bareng aku. Bunga malah lebih suka nongkrong sama koleganya, nraktir mereka makan. Padahal kan jasa orang yang nyariin pekerjaan jauh lebih besar daripada ajakan nongkrong teman-teman barunya. Dulu teman-temannya itu ga dekat, ga nolong si Bunga saat dia butuh pertolongan. Si Bunga tuh lupa diri karena senang bisa diterima bergaul dengan orang-orang gaul.” Banyak sekali cerita tentang orang yang ga tahu berterimakasih, ga tahu balas bud...

Eksistensi, Resistensi dan Waktu

Pentingkah menjelaskan tentang siapa dan bagaimana dirimu sebenernya? Haruskan ada pembuktian tentang apa yang sudah kita capai? “Aku sudah punya ini” “Aku sudah bisa begini” “Aku sudah meraih itu” Bla bla bla bla.... Haruskan kita tunjukkan?  Eksistensi.... Hmmm....ya pada dasarnya manusia ingin diakui keberadaannya; dia ada, dia memiliki, dia sempurna. Bagaimana? Bisa dengan sebuah atau lebih objek, sebagai penanda dia masih ada, tak tersingkirkan, masih penuh kuasa. Egois! Ya, egois menurutku. Kenapa? Dia tidak memberi celah, tidak memberi ruang untuk yang lain tinggal, hanya ada dia, tidak ada tempat untuk yang lain. Bukankah itu egois? Sempitnya ruang, terbatasnya gerak tak sadarkah dia kalau hal itu akan menimbulkan perlawanan? Keinginan, kepemilikan, membuat seseorang ingin melawan, ingin bertahan, untuk kemudian menang, menjadi ada untuk kemudian mencari pengakuan dan kembali mengulangi roda eksistensi lagi dan lagi. Resistens...

Susahnya menjadi Aku

Hah? Seriously? Hidup ku lhoo lebih berat dari kamu. Aku lho punya lebih banyak tanggungan dari kamu. Mungkin gitu kali ya pikiran kalian saat liat judul blog ku kali ini. Ga salah sih, hidup emang berat, bahkan bagi seorang Nia Ramadhani yang ga bisa ngupas salak.  Ah kamu aja yang ga bisa bersyukur, ada pula yang mungkin berpikiran seperti itu. Gapapa, itu pikiran kalian, itu pendapat kalian dan aku ga bisa larang kalian mau ngomong apa dan berpendapat kaya apa tentang aku, salah ku sih yang dikit-dikit baper, fiyuuuu.... Kenapa susah jadi “Aku”? Karena seorang “aku” ini sering kali kena komplain. Aku kasi tau yaa, masuk di lingkungan baru ga pernah mudah, bahkan bagi seorang "AKU" yang konon termasuk gampang beradaptasi. Tapi ini beda mamens, kebiasaan lama kita belum tentu bisa diterima, begitupula kebiasaan di tempat baru, belum tentu bisa kita terima dengan baik. Sebut saja si A, komplain karena aku ga pernah dilihat ngobrol sama anak nya yang lebetulan lama ting...

Aku dan Semua Rasa

Malam itu, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel ku, isinya nyuruh nyari pisang batu untuk "loloh", semacam jamu agar bisa punya anak. Heran, aneh, agak kesal, bukan....sangat kesal tepatnya. Apa sih ini? Kenapa pula harus pisang? Kenapa ga buah lain aja gitu? Mangga misalnya, atau manggis yang bisa membawa kabar gembira karena kini kulitnya sudah ada extraknya?! Dan ini bukan yang pertama, tahun lalu juga pernah, beberapa bulan lalu juga pernah.  Belum lagi berbagai ritual yang harus dijalani, ternyata bereproduksi tak hanya melibatkan organ reproduksi pria dan wanita, tapi juga ritual-ritual panjang nan melelahkan. Harus ini harus begitu, rasanya ingin sekali bilang, setelah aku punya anak, maukah mereka ikut berpartisipasi dalam keuangan untuk biaya hidup dan pendidikan anak ku? Atau biaya pas hamil, ngidam dan lahiran deh, beliin diapers, susu dan tetek bengek lainnya? Atau cuma bisanya nyuruh" aja? Cuma nyirnyir aja? Kenapa mereka tidak mengharg...

Yours, Mine and the Truth

" Honestly is more than not lying. It is truth telling, truth speaking, truth living, and truth loving" -  James E. Faust Okay, ntah kenapa hari ini aku pengen banget nulis tentang kejujuran, mungkin gara-gara liat novelnya Sherlock Holmes yang ngejogrok nganggur nunggu ditamatin atau gara-gara iseng googling tentang quote yang muncul mostly tentang honestly , entahlah... Seberapa pentingnya kejujuran buat ku? Penting banget sih, apa buat kalian penting juga? Bisa iya bisa juga tidak. Lewat tulisan ini bukannya aku berniat menghakimi orang-orang yang tidak jujur, siapalah aku ini, hanya butiran debu, makhluk yang juga ga luput dari dosa. Jujur itu berat, kadang pahit dan mengundang badai air mata. Ya....karena kejujuran aku pernah patah hati. Aku lebih memilih pacar ku (red: dulu) jujur kalo emang dia pengen udahan aja ketimbang dia bohong dan kami tetep sama-sama dan saling nyakitin satu sama lain. Awalnya tetep denial sih, nanya kenapa? Kenapa? Kok bisa? Tapi lama-l...